BUKTI KEBOHONGAN WAHABI
MEMBID’AHKAN DOA RUTIN SETELAH SHALAT MAKTUBAH
MEMBID’AHKAN DOA RUTIN SETELAH SHALAT MAKTUBAH
Setelah kami menulis bantaham ilmiah terhadap Wahabi, tentang dzikir
bersama dan Tahlilan, ada seorang Wahabi menulis komentar, dengan
mengutip dari fatwa Ibnu Taimiyah, fatwa
Imam Ahmad bin Hanbal dan pernyataan al-Syathibi dalam al-I’tisham.
Hanya saja, si Wahabi tersebut hanya mengutip pernyataan Ibnu Taimiyah
yang disukainya, dan membuang pernyataan Ibnu Taimiyah yang tidak sesuai
dengan selera Wahabi masa sekarang. Berikut ulasannya:
IBNU TAIMIYAH berkata: “
وأما دعاء الإمام والمأمومين بعد الصلاة جميعا رافعين أصواتهم أو غير
رافعين فهذا ليس من سنة الصلاة الراتبة لم يكن يفعله النبي صلى الله عليه
وسلم وقد استحسنه طائفة من العلماء من أصحاب الشافعي وأحمد في وقت صلاة
الفجر وصلاة العصر لأنه لا صلاة بعدها.
Adapun do’a imam bersama makmum setelah shalat lima waktu secara
berjama’ah dengan mengeraskan suara atau boleh jadi suaranya tidak
dikeraskan, maka ini bukanlah sunnahnya shalat yang dirutinkan. Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah sama sekali melakukan seperti
itu. Sebagian ulama dari kalangan Syafi’iyah dan Hanbali memang
menganjurkan yang demikian, namun itu hanya di waktu shalat Shubuh dan
Ashar karena setelah itu tidak ada lagi shalat. [Al Majmu’atul ‘Aliyyah
min Kutub wa Rosail wa Fatawa Syaikhil Islam Ibni Taimiyah, Dar Ibnil
Jauzi, hal. 134-135]
TANGGAPAN: Pernyataan Ibnu Taimiyah di atas menafikan beberapa hal:
a) Berdoa setelah shalat maktubah, bukan termasuk sunnah rutin dan tidak perlah dikerjakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam
b) Menolak membaca doa tersebut secara bersama-sama
Tentu fatwa Ibnu Taimiyah di atas, sangat tertolak dengan hadits-hadits shahih, antara lain:
1) Hadits Sayyidina Mu’adz bin Jabal radhiyallaahu ‘anhu
عن معاذ بن جبل ان النبي صلى الله عليه و سلم قال له يا معاذ اني والله
لاحبك فلا تدع دبر كل صلاة ان تقول اَللّهمَّ اَعِنِّيْ عَلىَ ذِكْرِكَ
وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ أَخْرَجَهُ أَبُو داود والنسائي وصححه ابن
حبان والحاكم
“Dari Mu’adz bin Jabal, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam
bersabda kepadanya: “Wahai Mu’adz, demi Allah aku benar-benar
mencintaimu. Maka janganlah kamu tinggalkan setiap selesai shalat untuk
berkata: “Ya Allah, tolonglah aku untuk berdzikir kepada-Mu, bersyukur
dan beribadah dengan baik kepada-Mu.” (HR. Abu Dawud 2/115, al-Nasa’i
3/53 dan dishahihkan oleh Ibnu Hibban 5/364-366 dan al-Hakim 1/273 dan
3/273).
Dalam hadits di atas jelas sekali, perintah membaca doa tersebut setiap selesai shalat maktubah secara rutin.
2) Hadits Sayyidina Abu Bakrah radhiyallaahu ‘anhu
عن مسلم بن أبي بكرة – رحمه الله – : قال : «كانَ أبي يقولُ في دُبُرِ
الصلاةِ : اللهم إني أَعوذُ بك من الكُفْرِ والفَقْرِ وعذابِ القَبرِ ،
فكنتُ أقُولُهنَّ ، فقال : أي بُنيَّ، عَمَّنْ أَخَذْتَ هذا ؟ قُلْتُ : عنك
،قال:إنَّ رسولَ الله -صلى الله عليه وسلم- كانَ يقولُهُنَّ في دُبُرِ
الصلاةِ فَالزَمهنَّ يا بُنيَّ». أخرجه احمد والترمذي والنسائي وصححه
الحاكم
Dari Muslim bin Abi Bakrah rahimahullaah, berkata: “Ayahku selalu
berkata setelah selesai shalat: “Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung
kepada-Mu dari kekufuran, kefakiran dan azab kubur.” Maka akupun selalu
membacanya. Lalu ayah berkata: “Wahai anakku, dari siapa bacaanmu kamu
peroleh?” Aku menjawab: “Darimu.” Ia berkata: “Sesungguhnya Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wasallam selalu mengucapkannya setelah selesai
shalat. Maka rutinkanlah wahai anakku.” (HR. Ahmad 5/39, al-Tirmidzi,
al-Nasa’i 3/73, dan dishahihkan oleh al-Hakim 1/252-253).
3) Hadits Sayyidina Sa’ad bin Abi Waqqash radhiyallaahu ‘anhu
وَعَنْ سَعْدِ بْنِ أَبِي وَقَّاصٍ – رضي الله عنه – قَالَ : – إِنَّ
رَسُولَ اَللهِ – صلى الله عليه وسلم – كَانَ يَتَعَوَّذُ بِهِنَّ دُبُرَ
اَلصَّلاةِ : ” اَللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ اَلْبُخْلِ وَأَعُوذُ
بِكَ مِنْ اَلْجُبْنِ , وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ أَنْ أُرَدَّ إِلَى أَرْذَلِ
اَلْعُمُرِ , وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ اَلدُّنْيَا , وَأَعُوذُ بِكَ
مِنْ عَذَابِ اَلْقَبْرِ – رَوَاهُ اَلْبُخَارِيُّ
“Dari Sa’ad bin Abi Waqqash radhiyallahu ‘anhu, berkata:
“Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam selalu memohon
perlindungan dari beberapa perkara setelah selesai shalat: “Ya Allah,
sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari sifat kikir, aku berlindung
kepada-Mu dari sifat pengecut, aku berlindung kepada-Mu dari
dikembalikan kepada umur yang paling lemah (pikun), aku berlindung
kepada-Mu dari fitnah dunia dan aku berlindung kepada-Mu dari azab
kubur.” (HR al-Bukhari 11/174 dan 178).
4) Hadits Sayyidina Zaid bin Arqam radhiyallaahu ‘anhu
عن زيد بن أرقم قال : سمعت رسول الله صلى الله عليه و سلم يدعو في دبر
الصلاة يقول اللهم ربنا ورب كل شيء انا شهيد أنك الرب وحدك لا شريك لك..
الحديث أخرجه أحمد وأبو داود والنسائي
Zaid bin Arqam berkata: “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi
wasallam berdoa setelah selesai shalat, seraya berkata: “Ya Allah,
Tuhan kami dan Tuhan segala-galanya. Aku bersaksi bahwa Engkau-lah Tuhan
semata, tidak ada sekutu bagi-Mu….” (HR. Ahmad, Abu Dawud 2/111, dan
al-Nasa’i).
5) Hadits Sayyidina Shuhaib radhiyallaahu ‘anhu
عن صهيب أن رسول الله صلى الله عليه و سلم كان ينصرف بهذا الدعاء من
صلاته: اللهم أصلح لي ديني الذي جعلته عصمة أمري وأصلح لي دنياي الذي جعلت
فيها معاشي اللهم إني أعوذ برضاك من سخطك وأعوذ بعفوك من نقمتك وأعوذ بك
منك لا مانع لما أعطيت ولا معطي لما منعت ولا ينفع ذا الجد منك جده أخرجه
النسائي وصححه ابن حبان
“Dari Shuhaib, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam selesai
dengan doa berikut ini dari shalatnya: “Ya Allah, perbaikilah agamaku
bagiku yang merupakan pelindung urusanku. Perbaikilah duniaku yang
Engkau jadikan tempat kehidupanku. Ya Allah, aku berlindung dengan
ridha-Mu dari murka-Mu. Aku berlindung dengan ampunan-Mu dari siksa-Mu.
Aku berlindung dari kepada-Mu dari-Mu. Tidak ada yang dapat menolak apa
yang Engkau berikan. Tidak ada yang dapat memberi apa yang Engkau cegah.
Tidak akan bermanfaat kesungguhan seseorang pada dirinya dari-Mu.” (HR
al-Nasa’i 3/73 dan dishahihkan oleh Ibnu Hibban 5/373).
Hadits-hadits di atas menjelaskan tentang doa-doa yang dibaca dan
dianjurkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam setiap selesai
shalat lima waktu. Demikian yang kami kutip dari al-Hafizh Ibnu Hajar
dalam Fath al-Bari. Sementara itu, kesunnahan doa rutin setiap selesai
shalat, juga diterangkan dalam hadits-hadits lain, misalnya:
6) Hadits Sayyidina Abu Umamah radhiyallaahu ‘anhu
عن أبي أمامة قال قلت : يا رسول الله أي الدعاء أسمع قال جوف الليل الآخر ودبر الصلوات المكتوبات أخرجه الترمذي والنسائي
“Abu Umamah berkata: “Aku berkata: “Wahai Rasulullah, di mana doa itu
paling cepat dikabulkan?” Beliau menjawab: “Doa pada waktu tengah
malam, dan setelah selesai menunaikan shalat maktubah.” (HR. al-Tirmidzi
5/188, dan al-Nasa’i).
Hadits di atas memberikan kesimpulan, anjuran berdoa pada waktu
tengah malam dan setiap selesai shalat lima waktu. Doa yang dibaca
bebas.
7) Hadits Sayyidina Ali bin Abi Thalib karramallaahu wajhah
عَنْ عَلِىِّ بْنِ أَبِى طَالِبٍ قَالَ كَانَ النَّبِىُّ -صلى الله عليه
وسلم- إِذَا سَلَّمَ مِنَ الصَّلاَةِ قَالَ « اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِى مَا
قَدَّمْتُ وَمَا أَخَّرْتُ وَمَا أَسْرَرْتُ وَمَا أَعْلَنْتُ وَمَا
أَسْرَفْتُ وَمَا أَنْتَ أَعْلَمُ بِهِ مِنِّى أَنْتَ الْمُقَدِّمُ
وَأَنْتَ الْمُؤَخِّرُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ ». رواه أبو داود
Ali bin Abi Thalib berkata: “Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam
apabila mengucapkan salam dari shalat, maka berdoa: “Ya Allah ampunilah
bagiku, apa yang telah aku kerjakan, apa yang akan aku kerjakan, apa
yang aku sembunyikan, apa yang aku lakukan terang-terangan, apa yang aku
lakukan berlebih-lebihan, dan apa yang Engkau lebih tahu dariku. Engkau
lah yang Maha Mendahulukan dan Maha Mengakhirkan. Tidak ada tuhan
melainkan Engkau.” (HR. Abu Dawud 2/111).
Hadits-hadits di atas, sangat tegas memberikan penjelasan bahwa
setiap selesai shalat maktubah, terdapat doa-doa ratibah (yang
dianjurkan dibaca secara rutin). Umat Islam tidap perlu terpengaruh
dengan fatwa Ibnu Taimiyah yang sangat mudah menafikan hadits-hadits
shahih dan sangat popular di kalangan para ulama dan penuntut ilmu.
Memang Ibnu Taimiyah, dan diikuti oleh kaum Wahabi dewasa ini, sering
menafikan hadits-hadits shahih yang telah diamalkan secara rutin oleh
umat Islam. Lalu dengan ulah tersebut, Wahabi membid’ahkan umat Islam
yang senang berdzikir setiap selesai shalat. Mereka malas berdzikir,
malah membid’ahkan orang yang berdzikir dan mengamalkan sunnah.
Sedangkan hukum membaca doa secara bersama-sama dengan mengeraskan
suara, atau dipimpin oleh seorang imam, yang sepertinya dinafikan dalam
fatwa Ibnu Taimiyah di atas, akan kita bahas selanjutnya. Insya Allah.
(Ust. Muh. Idrus Ramli)
WWW.IDRUSRAMLI.COM






0 komentar:
Posting Komentar